Menata Pendidikan. Kasus Kabupaten Sleman dan Gunung Kidul
Mengelola pendidikan di daerah memerlukan pendekatan yang berpusat pada pemerataan akses, peningkatan kualitas guru, dan adaptasi kurikulum dengan potensi lokal. Pemerintah daerah memastikan alokasi anggaran yang tepat sasaran, infrastruktur memadai, dan digitalisasi sekolah untuk menjembatani kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pelosok.
Mengelola pendidikan di tingkat daerah (baik kabupaten, kota, maupun provinsi) memiliki tantangan yang unik karena harus menyelaraskan kebijakan nasional dengan realitas, budaya, dan keterbatasan lokal. Strategi yang efektif harus berfokus pada pemerataan akses, peningkatan mutu, dan efisiensi tata kelola.
Kabupaten Sleman

Visi: Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Sleman yang Maju, Adil, Makmur, Lestari dan Berkeadaban. Adapun misinya antara lain Meningkatkan pembangunan manusia yang produktif, berkualitas dan berkepribadian. Menjamin akses kesehatan yang adil dan pelestarian lingkungan hidup yang berkelanjutan.
Dalam beberapa bulan terakhir, Bupati Sleman H. Harda Kiswaya, SE, M.Si memaparkan beberapa trik.
- Memangkas anak putus sekolah dengan berbagai upaya
- Berkolaborasi dengan berbagai elemen.
- Kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi, dengan target “Satu keluarga. Satu sarjan”.
- Mendayagunakan peran komunitas masyarakat seperti PKK, paguyuban orangtua.
Kabupaten Gunung Kidul

Visi: Mewujudkan kualitas pendidikan, pemuda, dan olahraga yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya. Mengusung misi antara lain: menyediakan pendidikan berkualitas untuk semua dan nondiskriminatif. Mengembangkan karakter berbasis budaya. Mengembangkan pusat-pusat unggulan mutu pendidikan.
Bupati Gunung Kidul, Endah Subekti, SE, M.P. menitk beratkan pengelolaan pendidikan lewat
- Gunung Kidul merupakan wilayah terluas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yaitu 46,63%. Didukung oleh panjang pantai 73 km, yang sekarang menjadi wisata unggulan.
- Oleh UNESCO Gunung Kidul ditetapkan sebagai Geopark. Dari keadaan yang seperti ini, maka pola pendidikannya diarahkan ke alam.
- Gunung Kidul menghibahkan tanah seluas 5 hektar untuk pembangunan kampus UNY. Harapannya agar kampus mendekat kepada calon mahasiswa
- Anggaran PAD memang lebih rendah dibanding tahun lalu, namun bea siswa justru ditingkatkan 3 kali lipat, diperuntukkan untuk “anak miskin. Anak cerdas”. Mengapa demikian, karena ada semboyan “kemiskinan sumbernya dari kebodohan”.